Pandang dan Lihat, Dengar dan Berilah Perhatian, Tafsir dan Fikirkan, Faham dan Amalkan, Semoga Anda Zauq Dalam Kebahagiaan...
Khamis, 29 Julai 2010
Rabu, 14 Julai 2010
Keajaiban Optik Mata... Cubalah!
Khamis, 8 Julai 2010
Khusyuk Dalam Ibadah
Dalam kitab Futuhatul Makkiyah karya Ibnu Arabi, ada beberapa kisah tentang orang-orang yang khusyuk. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf pada seorang guru. Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. Anak muda itu berkata, "Semalam aku telah mengkhatamkan Al Qur'an dalam shalat malamku." Gurunya berkata, "Bagus. Kalau begitu aku sarankan, nanti malam bacalah Al Qur'an dan hadirkan aku seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu."
Esoknya, pemuda itu datang dan mengeluh, "Ya Ustadz, semalam aku tak bisa menyelesaikan bacaan Al Qur'an lebih dari setengahnya (15 juz)." Gurunya berkata, "Kalau begitu, nanti malam bacalah Al Qur'an dan hadirkanlah di hadapanmu para sahabat nabi SAW yang mendengarkan Al Qur'an itu langsung dari Rasulullah SAW."
Keesokan harinya pemuda itu berkata, "Ya Ustadz, semalam aku tak bisa menyelesaikan sepertiga dari Al Qur'an itu." Gurunya lalu berkata, "Nanti malam, bacalah Al Qur'an dan hadirkanlah Rasulullah SAW dihadapanmu, yang kepadanya Al Qur'an diturunkan."
Esok harinya, pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa membaca satu juz Al Qur'an. Itu pun aku selesaikan dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam bacalah Al Qur'an dengan menghadirkan Jibril, yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al Qur'an kepada nabi."
Esoknya, pemuda itu tak bercerita bahwa ia tak mampu menyelesaikan bacaan Al Qur'annya walau hanya satu juz. Gurunya berkata lagi, "Nanti jika engkau membaca Al Qur'an lagi, hadirkan Allah di hadapanmu. Karena sebetulnya yang mendengarkan bacaan Al Qur'anmu adalah Allah. Dialah yang menurunkan bacaan itu kepadamu."
Keesokan harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab sambil menangis tersedu-sedu, "Aku tak bisa menyelesaikan walau Al Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, lidahku tak sanggup. Dalam mulut kuucapkan, Tuhan, kepadamu aku beribadah, tapi dalam hatiku aku tahu aku sering menomer satukan selain Dia. Ucapan itu tak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in."
Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.
Bagaimana dengan ibadah kita? Tepuk dada tanya iman...
Astaghfirullah...
Esoknya, pemuda itu datang dan mengeluh, "Ya Ustadz, semalam aku tak bisa menyelesaikan bacaan Al Qur'an lebih dari setengahnya (15 juz)." Gurunya berkata, "Kalau begitu, nanti malam bacalah Al Qur'an dan hadirkanlah di hadapanmu para sahabat nabi SAW yang mendengarkan Al Qur'an itu langsung dari Rasulullah SAW."
Keesokan harinya pemuda itu berkata, "Ya Ustadz, semalam aku tak bisa menyelesaikan sepertiga dari Al Qur'an itu." Gurunya lalu berkata, "Nanti malam, bacalah Al Qur'an dan hadirkanlah Rasulullah SAW dihadapanmu, yang kepadanya Al Qur'an diturunkan."
Esok harinya, pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa membaca satu juz Al Qur'an. Itu pun aku selesaikan dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam bacalah Al Qur'an dengan menghadirkan Jibril, yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al Qur'an kepada nabi."
Esoknya, pemuda itu tak bercerita bahwa ia tak mampu menyelesaikan bacaan Al Qur'annya walau hanya satu juz. Gurunya berkata lagi, "Nanti jika engkau membaca Al Qur'an lagi, hadirkan Allah di hadapanmu. Karena sebetulnya yang mendengarkan bacaan Al Qur'anmu adalah Allah. Dialah yang menurunkan bacaan itu kepadamu."
Keesokan harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab sambil menangis tersedu-sedu, "Aku tak bisa menyelesaikan walau Al Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, lidahku tak sanggup. Dalam mulut kuucapkan, Tuhan, kepadamu aku beribadah, tapi dalam hatiku aku tahu aku sering menomer satukan selain Dia. Ucapan itu tak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in."
Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.
Bagaimana dengan ibadah kita? Tepuk dada tanya iman...
Astaghfirullah...
Rabu, 7 Julai 2010
Sunan Bonang dengan santrinya
Sebagai seorang wali, Sunan Bonang selalu mengembara untuk menyebarkan agama. Sering kali ia berjalan sendirian, menempuh hutan belantara, mendaki gunung yang tinggi, menuruni jurang yang curam dan mendatangi dusun terpencil di kaki bukit berhutan lebat.
Pada suatu hari ia melakukan perjalanan bersama seorang santrinya. Mereka membawa bekal nasi bungkus yang dibeli di warung pada sebuah desa di sempadan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah selesai solat Dzuhur, di tepi sebuah telaga yang bening, kedua-dua orang guru dan murid itu berehat pada suatu tempat yang lapang dalam naungan daun-daun sebatang pohon beringin yang rimbun.
Mereka membuka nasi bungkus masing-masing, lalu memakannya dengan lahap kerana perut sudah keroncongan. Tentu saja diawali membaca basmalah dan doa syukur kepada Tuhan.
Rupanya, kerana nikmatnya, santri Sunan Bonang sehingga tidak sedar di pinggir mulutnya ada beberapa butir nasi yang melekat. Ketika selesai makan butir-butir tersebut masih disitu. Sunan Bonang sebagai guru lantas menegur, "Hai, santri. Jorok kamu."
"Mengapa guru?" tanya santri hairan.
"Orang Islam tidak boleh jorok. Kebersihan adalah sebahagian dari iman."
"Apa saya jorok?"
"Itu, di tepi bibirmu banyak butir nasi tertinggal," jawab Sunan Bonang sambil menuding dengan telunjuknya.
Maka, dengan kemalu-maluan ia akan menyapu bibirnya dan membuang nasi itu ke tanah. Tiba-tiba Sunan Bonang mengherdik:
"Wahai santri. Bodoh kamu! Mengapa kau buang begitu saja sisa-sisa nasi itu?"
Santri tersebut makin tidak faham. Ia pun berdalih, "Bukankah Guru berkata jorok kepada saya kerana ada butir-butir nasi di mulut saya? Maka saya buanglah nasi itu. Apa harus saya makan?"
"Tidak, bukan kau makan.Memang ada hadis Nabi yang mengatakan beliau menyarankan agar makanan yang tersisa di hujung-hujung jari pun harus dihabiskan, kalau perlu menjilatnya. Tapi maksudnya bukan harfiah begitu. Beliau bermaksud supaya kita tidak boleh mensia-siakan makanan, walaupun cuma sedikit. "
"Berarti tindakan saya membuang sisa nasi di mulut saya tadi tidak salah?"
"Tidak."
"Jadi mengapa Guru mengatakan saya bodoh dan marah kepada saya?"
"Karena kamu memang bodoh."
"Maksud Guru?"
"Kau boleh membuang sisa nasi itu, tetapi harus dengan niat. Iaitu, kerana nasi tersebut tidak mungkin kau manfaatkan lagi, maka buanglah dengan niat agar boleh dimakan oleh mahluk-mahluk Allah yang lain, seperti semut, dan sebangsanya. Sebab kalau kamu tidak dengan niat begitu, bererti kamu membuat membazir rezeki Allah, kurnia Allah. Dan orang-orang yang suka berbuat membazir adalah saudaranya syaitan. Termasuk jika kamu membuang makanan basi ke tempat sampah, berniatlah agar dimakan anjing atau babi. Mereka juga mahluk Allah yang perlu disayangi. Walaupun mereka hukumnya najis "Mughaladzah", tidak bererti boleh disakiti atau dianiaya. Mereka juga harus diperhatikan nasibnya. "
Sumber: 30 Kisah Teladan, Pengarang: KH Abdurrahman Arroisi.
Penerbit: Sdn Bhd Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sumber : http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-hikmah/sunan-bonang-dengan-santrinya.html
Pada suatu hari ia melakukan perjalanan bersama seorang santrinya. Mereka membawa bekal nasi bungkus yang dibeli di warung pada sebuah desa di sempadan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah selesai solat Dzuhur, di tepi sebuah telaga yang bening, kedua-dua orang guru dan murid itu berehat pada suatu tempat yang lapang dalam naungan daun-daun sebatang pohon beringin yang rimbun.
Mereka membuka nasi bungkus masing-masing, lalu memakannya dengan lahap kerana perut sudah keroncongan. Tentu saja diawali membaca basmalah dan doa syukur kepada Tuhan.
Rupanya, kerana nikmatnya, santri Sunan Bonang sehingga tidak sedar di pinggir mulutnya ada beberapa butir nasi yang melekat. Ketika selesai makan butir-butir tersebut masih disitu. Sunan Bonang sebagai guru lantas menegur, "Hai, santri. Jorok kamu."
"Mengapa guru?" tanya santri hairan.
"Orang Islam tidak boleh jorok. Kebersihan adalah sebahagian dari iman."
"Apa saya jorok?"
"Itu, di tepi bibirmu banyak butir nasi tertinggal," jawab Sunan Bonang sambil menuding dengan telunjuknya.
Maka, dengan kemalu-maluan ia akan menyapu bibirnya dan membuang nasi itu ke tanah. Tiba-tiba Sunan Bonang mengherdik:
"Wahai santri. Bodoh kamu! Mengapa kau buang begitu saja sisa-sisa nasi itu?"
Santri tersebut makin tidak faham. Ia pun berdalih, "Bukankah Guru berkata jorok kepada saya kerana ada butir-butir nasi di mulut saya? Maka saya buanglah nasi itu. Apa harus saya makan?"
"Tidak, bukan kau makan.Memang ada hadis Nabi yang mengatakan beliau menyarankan agar makanan yang tersisa di hujung-hujung jari pun harus dihabiskan, kalau perlu menjilatnya. Tapi maksudnya bukan harfiah begitu. Beliau bermaksud supaya kita tidak boleh mensia-siakan makanan, walaupun cuma sedikit. "
"Berarti tindakan saya membuang sisa nasi di mulut saya tadi tidak salah?"
"Tidak."
"Jadi mengapa Guru mengatakan saya bodoh dan marah kepada saya?"
"Karena kamu memang bodoh."
"Maksud Guru?"
"Kau boleh membuang sisa nasi itu, tetapi harus dengan niat. Iaitu, kerana nasi tersebut tidak mungkin kau manfaatkan lagi, maka buanglah dengan niat agar boleh dimakan oleh mahluk-mahluk Allah yang lain, seperti semut, dan sebangsanya. Sebab kalau kamu tidak dengan niat begitu, bererti kamu membuat membazir rezeki Allah, kurnia Allah. Dan orang-orang yang suka berbuat membazir adalah saudaranya syaitan. Termasuk jika kamu membuang makanan basi ke tempat sampah, berniatlah agar dimakan anjing atau babi. Mereka juga mahluk Allah yang perlu disayangi. Walaupun mereka hukumnya najis "Mughaladzah", tidak bererti boleh disakiti atau dianiaya. Mereka juga harus diperhatikan nasibnya. "
Sumber: 30 Kisah Teladan, Pengarang: KH Abdurrahman Arroisi.
Penerbit: Sdn Bhd Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sumber : http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-hikmah/sunan-bonang-dengan-santrinya.html
Khamis, 1 Julai 2010
Dunia Memang Menyakitkan...
Tiada apa yang menarik semalam, kecuali sedikit kerja di luar pejabat yang perlu saya selesaikan dengan kadar yang segera. Pergi ke CIMB Satok untuk bayar rumah, menguruskan ASB dan 'nyelepat' sebentar dengan sahabat baik saya untuk minum pagi.
Kebanyakan tugasan di pejabat telah saya siapkan sehari sebelum. Makanya, tidak banyak kerja yang hendak dibuat pada hari semalam, kecuali sedikit sahaja yang boleh dibuat pada bila-bila masa sahaja. Setelah meminta izin dari boss dan Tuan Wenndy, saya bergerak keluar dari pejabat dan menuju ke Satok. Pejabat tampak sunyi hari semalam kerana boss dan Radzi akan berangkat ke Sibu, manakala Harun dan Zulhatta pula akan ke Saratok.
Tepat 9:15 pagi, pintu bank dibuka. Saya mengisi borang dan mengambil nombor giliran. Semasa menunggu, sahabat baik saya call dan mengajak minum pagi bersama. Saya bersetuju setelah urusan di bank selesai.
Semasa berurusan di kaunter, sempat saya menjeling di hujung kaunter tersebut yang kelihatan beberapa orang pekerja memunggah beberapa kotak berisi wang kertas RM 50 dan Rm 100. Berbungkal-bungkal not wang tersebut dikeluarkan dari kotak dan dikira oleh pegawai berkenaan. Saya kagum sekejap melihat sejumlah wang yang begitu banyak, dan berangan kalau kesemua wang tersebut milik saya.
Usai urusan di bank, saya menuju ke tempat minum untuk memenuhi jemputan sahabat baik saya. Kelihatan sahabat saya telah menunggu di meja makan. Kami bersalaman dan membuat pesanan. Kopi tongkat ali, mee goreng dan roti planta menjadi menu kami pada hari tersebut.
Saya mengenali sahabat baik saya ini hampir belasan tahun lamanya. Kami berkawan semenjak di bangku sekolah lagi. Saya selesa berkawan dengannya kerana kami banyak berkongsi pengalaman hidup, dan rahsia masing-masing. Sahabat saya ini pandai memberi nasihat dan melontar idea. Saya sendiri banyak belajar daripada beliau. Jarak umur yang tidak jauh menyebabkan kami tidak janggal untuk berkawan rapat. Dengan usia yang agak tua sedikit daripada saya, kami seumpama adik beradik yang berlainan orang tua.
Sahabat baik saya ini bakal menjadi raja sehari pada hujung tahun ini. Seperti bakal pengantin yang lain, beliau dan tunangannya baru sahaja pulang dari Kuala Lumpur untuk membeli barang hantaran. Dari ceritanya, banyak juga belanja yang dikeluarkan. Maklumlah, bakal isterinya anak orang kaya, malah pakcik kepada tunangan sahabat baik saya ini merupakan seorang ahli perniagaan berpangkat datuk yang terkenal di Sarawak.
Sambil minum, kami bersembang pelbagai perkara. Namun topik kali ini lebih serius, iaitu berkenaan persiapan perkahwinan. Banyak perkara yang dikeluhkan, khususnya tentang belanja hantaran nikah. Terkejut juga saya apabila beliau mengatakan belanja untuk hantaran sahaja mencecah ribuan ringgit.
Saya termangu. Kalau tiba giliran saya kelak, berapa agaknya belanja yang terpaksa saya keluarkan. Simpanan memang ada, insya Allah. Kalau nak fikir hal duit, semua perkara memerlukan duit. Nak buang air pun perlu bayar 20 sen, inikan pula nak ambil anak orang buat isteri.
Masalah wang dihadapi oleh semua orang. Tiada yang terlepas, hatta orang kaya sekalipun akan mengatakan dirinya tidak cukup wang untuk menampung keperluan hiudp. Taraf hidup manusia masakini semakin meningkat. Keperluan asas menuntut belanja yang lebih banyak, belum masuk kehendak asasi lagi. Perkara seperti ini kadang-kadang membimbangkan saya. Dengan gaji yang sederhana, saya cuba untuk 'survive' di celah belantara moden yang semakin hari semakin zalim ini. Syukurlah saya punya iman dan keluarga yang sentiasa menyokong saya. Ibu sering berpesan kepada saya, bukan kerana wang banyak kita dapat meneruskan kesinambungan hidup, tetapi atas sebab berkat dan izin Allah lah yang dapat menyebabkan kita untuk terus hidup. Ibu sering menitikberatkan pengurusan kewangan kepada saya semenjak dari bangku sekolah lagi. Saya akui, saya agak pemboros satu ketika dahulu, namun berkat didikan ibu, alhamdulillah saya sudah mempunyai simpanan sendiri yang insya Allah boleh untuk 'survive' sikit-skit, walau tidak semewah orang lain.
Saya mendengar dengan teliti cerita sahabat baik saya. Saya akui, saya sendiri mengalami dilema yang sama. Namun saya enggan mengalah kepada keadaan ini kerana selagi ada kudrat dan kemampuan, saya akan teruskan perancangan hidup saya. Saya meletakkan Allah di hati saya dan memohon panduan dariNya bagi menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Saya yakin, selagi keberkatan itu ada, selagi saya percaya kepada kehendak takdir, saya tidak akan kalah.
Perbualan kami melarat ke pelbagai topik yang lain. Hal kahwin, perancangan hidup selepas berumah tangga, target masa depan dan lain-lain. Malah sempat juga kami bercerita tentang kerenah pasangan. Maklumlah, cerita pasal perempuan. Kadang-kadang menyusahkan hati, tapi dalam pada itu, lucunya pun ada juga.
Teringat pula saya tentang satu kisah, mengenai seorang lelaki yang mengadu masalah tunangnya kepada saya. Kisah ini saya rasa wajar dijadikan pengajaran tidak kira lelaki atau perempuan, supaya boleh kita ambil iktibar sebagai panduan hidup kita.
Cinta Beralih Arah...
Kawan : Asri, kau boleh tak tolong tengokkan tunang aku? Aku rasa dia kena sihir lah.
Saya : Apasal kau cakap macam tu. Tak elok menuduh orang. Selidik dulu betul-betul. Cuba cerita kat aku apa masalah engkau.
Kawan : Entahlah. Aku tengok tunang aku tu dah macam tak sayang kat aku lah. Makin hari makin 'dingin' je ngan aku. Aku call dia tak jawab, sms pun tak reply. Bila aku jumpa dia, asyik marah-marah. Bila aku tanya, dia kata takde apa-pa. Pelik betul lah. Aku syak dia ada lelaki lain.
Saya : Eish, jangan cakap macam tu. Engkau ada buat salah kot? Pegi la mintak maaf kat dia.
Kawan : Dah buat dah. Tapi dia masih dingin ngan aku. Sedih aku macam ni. Aku sayang kat dia.
Saya terdiam. Ye lah, siapa tak sayang tunang kan? Kalau dulu masa mengorat, bukan main susah. Ni dah bertunang, tinggal nak kahwin je lagi, tiba-tiba perempuan tu buat hal, siapa tak sedih?
Saya : Aku rasa tunang engkau tak kena sihir la. Pergi tanya dia elok-elok, bawak berbincang. Mungkin dia ada masalah lain yang engkau tak tahu.
Kawan : Masalahnya, dia taknak bagitau apa masalah dia. Aku dah tanya dah, dia kata takde apa-apa, biasa je.
Saya berfikir, last-last...
Saya : Engkau buat sembahyang hajat je lah. Doa mintak Tuhan lembutkan hati dia. Kalau memang jodoh engkau, insya Allah, tak ke manalah perempuan tu (cakap memang senang le, bila buat?). Bangun malam, buat qiamullail. Satu lagi, sayang tunang tu sayang jugak, tapi berpada-pada. Cinta Allah tu lebih mustahak dan utama. Tu la akibatnya kalau mendahulukan cinta dunia daripada cinta Allah. Menderita jiwa raga.
Nasihat saya itu sebenarnya 'memukul' diri saya sendiri. Cinta dunia adalah penyakit yang biasa dihadapi oleh semua orang. Dan saya rasa saya juga ada penyakit tersebut. Saya sendiri mempunyai rasa cinta kepada pasangan, namun saya tidak tahu ukuran cinta saya itu. Apa yang saya tahu ialah, saya ikhlas. Adakah saya akan 'menderita' juga seperti kawan saya ini bila keadaan yang sama berlaku ke atas diri saya?
Demikianlah manusia, bila diberi nikmat, mula lupa dan lalai. Tapi bila ujian menimpa, baru nak sedar diri.
Astaghfirullah...
Kebanyakan tugasan di pejabat telah saya siapkan sehari sebelum. Makanya, tidak banyak kerja yang hendak dibuat pada hari semalam, kecuali sedikit sahaja yang boleh dibuat pada bila-bila masa sahaja. Setelah meminta izin dari boss dan Tuan Wenndy, saya bergerak keluar dari pejabat dan menuju ke Satok. Pejabat tampak sunyi hari semalam kerana boss dan Radzi akan berangkat ke Sibu, manakala Harun dan Zulhatta pula akan ke Saratok.
Tepat 9:15 pagi, pintu bank dibuka. Saya mengisi borang dan mengambil nombor giliran. Semasa menunggu, sahabat baik saya call dan mengajak minum pagi bersama. Saya bersetuju setelah urusan di bank selesai.
Semasa berurusan di kaunter, sempat saya menjeling di hujung kaunter tersebut yang kelihatan beberapa orang pekerja memunggah beberapa kotak berisi wang kertas RM 50 dan Rm 100. Berbungkal-bungkal not wang tersebut dikeluarkan dari kotak dan dikira oleh pegawai berkenaan. Saya kagum sekejap melihat sejumlah wang yang begitu banyak, dan berangan kalau kesemua wang tersebut milik saya.
Usai urusan di bank, saya menuju ke tempat minum untuk memenuhi jemputan sahabat baik saya. Kelihatan sahabat saya telah menunggu di meja makan. Kami bersalaman dan membuat pesanan. Kopi tongkat ali, mee goreng dan roti planta menjadi menu kami pada hari tersebut.
Saya mengenali sahabat baik saya ini hampir belasan tahun lamanya. Kami berkawan semenjak di bangku sekolah lagi. Saya selesa berkawan dengannya kerana kami banyak berkongsi pengalaman hidup, dan rahsia masing-masing. Sahabat saya ini pandai memberi nasihat dan melontar idea. Saya sendiri banyak belajar daripada beliau. Jarak umur yang tidak jauh menyebabkan kami tidak janggal untuk berkawan rapat. Dengan usia yang agak tua sedikit daripada saya, kami seumpama adik beradik yang berlainan orang tua.
Sahabat baik saya ini bakal menjadi raja sehari pada hujung tahun ini. Seperti bakal pengantin yang lain, beliau dan tunangannya baru sahaja pulang dari Kuala Lumpur untuk membeli barang hantaran. Dari ceritanya, banyak juga belanja yang dikeluarkan. Maklumlah, bakal isterinya anak orang kaya, malah pakcik kepada tunangan sahabat baik saya ini merupakan seorang ahli perniagaan berpangkat datuk yang terkenal di Sarawak.
Sambil minum, kami bersembang pelbagai perkara. Namun topik kali ini lebih serius, iaitu berkenaan persiapan perkahwinan. Banyak perkara yang dikeluhkan, khususnya tentang belanja hantaran nikah. Terkejut juga saya apabila beliau mengatakan belanja untuk hantaran sahaja mencecah ribuan ringgit.
Saya termangu. Kalau tiba giliran saya kelak, berapa agaknya belanja yang terpaksa saya keluarkan. Simpanan memang ada, insya Allah. Kalau nak fikir hal duit, semua perkara memerlukan duit. Nak buang air pun perlu bayar 20 sen, inikan pula nak ambil anak orang buat isteri.
Masalah wang dihadapi oleh semua orang. Tiada yang terlepas, hatta orang kaya sekalipun akan mengatakan dirinya tidak cukup wang untuk menampung keperluan hiudp. Taraf hidup manusia masakini semakin meningkat. Keperluan asas menuntut belanja yang lebih banyak, belum masuk kehendak asasi lagi. Perkara seperti ini kadang-kadang membimbangkan saya. Dengan gaji yang sederhana, saya cuba untuk 'survive' di celah belantara moden yang semakin hari semakin zalim ini. Syukurlah saya punya iman dan keluarga yang sentiasa menyokong saya. Ibu sering berpesan kepada saya, bukan kerana wang banyak kita dapat meneruskan kesinambungan hidup, tetapi atas sebab berkat dan izin Allah lah yang dapat menyebabkan kita untuk terus hidup. Ibu sering menitikberatkan pengurusan kewangan kepada saya semenjak dari bangku sekolah lagi. Saya akui, saya agak pemboros satu ketika dahulu, namun berkat didikan ibu, alhamdulillah saya sudah mempunyai simpanan sendiri yang insya Allah boleh untuk 'survive' sikit-skit, walau tidak semewah orang lain.
Saya mendengar dengan teliti cerita sahabat baik saya. Saya akui, saya sendiri mengalami dilema yang sama. Namun saya enggan mengalah kepada keadaan ini kerana selagi ada kudrat dan kemampuan, saya akan teruskan perancangan hidup saya. Saya meletakkan Allah di hati saya dan memohon panduan dariNya bagi menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Saya yakin, selagi keberkatan itu ada, selagi saya percaya kepada kehendak takdir, saya tidak akan kalah.
Perbualan kami melarat ke pelbagai topik yang lain. Hal kahwin, perancangan hidup selepas berumah tangga, target masa depan dan lain-lain. Malah sempat juga kami bercerita tentang kerenah pasangan. Maklumlah, cerita pasal perempuan. Kadang-kadang menyusahkan hati, tapi dalam pada itu, lucunya pun ada juga.
Teringat pula saya tentang satu kisah, mengenai seorang lelaki yang mengadu masalah tunangnya kepada saya. Kisah ini saya rasa wajar dijadikan pengajaran tidak kira lelaki atau perempuan, supaya boleh kita ambil iktibar sebagai panduan hidup kita.
Cinta Beralih Arah...
Kawan : Asri, kau boleh tak tolong tengokkan tunang aku? Aku rasa dia kena sihir lah.
Saya : Apasal kau cakap macam tu. Tak elok menuduh orang. Selidik dulu betul-betul. Cuba cerita kat aku apa masalah engkau.
Kawan : Entahlah. Aku tengok tunang aku tu dah macam tak sayang kat aku lah. Makin hari makin 'dingin' je ngan aku. Aku call dia tak jawab, sms pun tak reply. Bila aku jumpa dia, asyik marah-marah. Bila aku tanya, dia kata takde apa-pa. Pelik betul lah. Aku syak dia ada lelaki lain.
Saya : Eish, jangan cakap macam tu. Engkau ada buat salah kot? Pegi la mintak maaf kat dia.
Kawan : Dah buat dah. Tapi dia masih dingin ngan aku. Sedih aku macam ni. Aku sayang kat dia.
Saya terdiam. Ye lah, siapa tak sayang tunang kan? Kalau dulu masa mengorat, bukan main susah. Ni dah bertunang, tinggal nak kahwin je lagi, tiba-tiba perempuan tu buat hal, siapa tak sedih?
Saya : Aku rasa tunang engkau tak kena sihir la. Pergi tanya dia elok-elok, bawak berbincang. Mungkin dia ada masalah lain yang engkau tak tahu.
Kawan : Masalahnya, dia taknak bagitau apa masalah dia. Aku dah tanya dah, dia kata takde apa-apa, biasa je.
Saya berfikir, last-last...
Saya : Engkau buat sembahyang hajat je lah. Doa mintak Tuhan lembutkan hati dia. Kalau memang jodoh engkau, insya Allah, tak ke manalah perempuan tu (cakap memang senang le, bila buat?). Bangun malam, buat qiamullail. Satu lagi, sayang tunang tu sayang jugak, tapi berpada-pada. Cinta Allah tu lebih mustahak dan utama. Tu la akibatnya kalau mendahulukan cinta dunia daripada cinta Allah. Menderita jiwa raga.
Nasihat saya itu sebenarnya 'memukul' diri saya sendiri. Cinta dunia adalah penyakit yang biasa dihadapi oleh semua orang. Dan saya rasa saya juga ada penyakit tersebut. Saya sendiri mempunyai rasa cinta kepada pasangan, namun saya tidak tahu ukuran cinta saya itu. Apa yang saya tahu ialah, saya ikhlas. Adakah saya akan 'menderita' juga seperti kawan saya ini bila keadaan yang sama berlaku ke atas diri saya?
Demikianlah manusia, bila diberi nikmat, mula lupa dan lalai. Tapi bila ujian menimpa, baru nak sedar diri.
Astaghfirullah...
Isnin, 21 Jun 2010
Tugasan Hari Isnin...
Kembali kerja hari ini membuatkan saya teruja untuk membuat kerja setelah seminggu tiada di pejabat kerana outstation di luar Kuching. Fikiran saya menerawang jauh memikirkan apa agaknya tugasan yang menunggu di pejabat. Perjalanan kaki dari pengkalan Kpg Boyan terasa singkat kerana begitu asyik berfikir tentang kerja yang bakal menunggu di pejabat.
Setibanya di pejabat, saya melihat Harun telah meninggalkan nota kecil (yellow sticker) di atas meja saya. Salinan surat dari HDC perlu difaxkan dengan segera ke HQ Kuala Lumpur di Jabatan Rumah Mesra Rakyat. Harun dan Zulhatta tiada di Kuching kerana menghadiri bengkel ISO selama 3 hari di HQ. Makanya semua tugasan bahagian teknikal hari ini dipikul oleh saya.
Seperti biasa, sebelum mula kerja kena berdoa dan warm-up dulu. Begitulah lazimnya yang berlaku di pejabat, jarang yang terus memulakan kerja sebaik tiba di meja masing-masing. Paling kurang, check email atau baca Harian Metro online. Kalau tak, minum kopi atau teh seteguk dua di pantry belakang sambil bersembang. Lainlah kalau big boss datang awal dan minta disediakan dokumen atau barang-barang penting. Pejabat boleh jadi huru-hara dan kacau bilau olehnya.
Kelaziman yang saya buat sebelum memulakan kerja ialah menyenaraikan semua 'task' yang bakal dibuat pada hari tersebut. Setelah kesemua tugasan telah di'list down', barulah saya memulakan kerja. Setiap kerja yang telah siap, akan ditandakan 'DONE' bagi menandakan bahawa 'task' tersebut telah sempurna disiapkan. Kaedah ini saya pelajari dari Head of Project Implementation kami, Tuan Wenndy Sebli. Kaedah ini penting bagi memastikan tidak ada tugasan yang tercicir keluar dan siap on time. Setiap senarai tugasan juga disenaraikan mengikut keutamaan. Perkara yang penting didahulukan, mana yang boleh ditangguh mungkin boleh dibuat pada keesokan harinya.
Saya fax salinan surat tersebut setelah meneliti isi kandungan surat yang dilampirkan oleh Harun kepada saya. Kemudian, saya call HQ untuk memaklumkan tentang fax tersebut. Setelah itu, saya call pula bahagian Finance di KL bagi follow-up retention money untuk kontraktor RMR yang telah lama tertunda. Malangnya, banyak payment yang belum diproses sedangkan memo mengenai payment tersebut telah dihantar lebih 3 bulan yang lepas. Mungkin ada kesilapan teknikal sikit agaknya.
Apa yang saya suka pada bahagian section kami di SPNB ini ialah, walau sesibuk manapun, atau 'stress' macam mana sekalipun, kami tetap bergurau bagi meredakan ketegangan kerja. Usik-mengusik, bergurau senda dah jadi macam 'tradisi' di section kami. Kadang-kadang, satu section ketawa terbahak-bahak sampai tak ingat dunia. Pernah sekali Tuan Wenndy buat satu cerita lawak, kami ketawa terbahak-bahak dengan suara nyaring, sedangkan big boss ada di biliknya. Syukurlah bos tak marah. Dia pun faham kami suka bergurau time kerja. Boss pun tak kisah kalau kami bergurau, asal apa yang dipinta dan tugasan siap dengan sempurna.
Suasana seperti ini menjadikan kami saling memahami antara satu sama lain. Ketgangan dan stress tempat kerja juga dapat dikurangkan. Masing-masing dengan watak dan karakter masing-masing. Tuan Wenndy dan Airwan, ada saja cerita lawak mereka. Sampaikan tengah serius discussion sempat juga buat lawak. Kami jadi tukang ketawa. Azry, Saiful, Tinie, Ziza dan Nisa, pun kadang-kadang join sekali dalam 'permainan' kami. Begitu juga Harun, saya, Faizul dan Zulhatta, semuanya kepala 'teknikal'. Bila kepala 'teknikal', ada-ada saja idea lawak @ 'gila-gila' menjadi 'permainan' kami.
Bila masuk waktu solat, kami berhenti kerja dan bersiap untuk solat jemaah. Dua minggu lepas, Tuan Wenddy telah membeli sebuah kitab untuk dibacakan setiap kali habis waktu solat. Ini satu aktiviti yang bermanfaat kerana ada juga ruang untuk menambah ilmu agama selain dari meraih pahala solat berjemaah.
Saya mempunyai pengalaman kerja hampir 10 tahun dalam bidang kejuruteraan. Sekitar 5 buah syarikat kejuruteraan pernah menjadi tempat saya mencari rezeki. Pelbagai ragam dan karakter orang yang saya perhatikan. Di SPNB, saya berpeluang untuk mempelajari karakter-karakter baru ini untuk pengetahuan dan panduan hidup saya. Syukur saya kepada Allah kerana menemukan kawan-kawan yang baik seperti di SPNB. Ini yang saya maksudkan dengan kitabkehidupan, belajar bukan dari kitab dengan tulisan yang ditulis atas kertas semata-mata, tetapi pada ragam dan warna hidup manusia yang ada di sekeliling kita. Kitabkehidupan yang 'hidup' di depan mata kita, yang kita baca dengan mata hati dan iman yang sejati.
Wallahu 'alam...

Dari kiri : Staf Project Implementation; Tuan Wenndy, Airwan (berkopiah putih), Zulhatta, Harun (berdiri),Faizul dan saya. Di hujung sekali berdiri Shimani (berbaju merah) dari Section Marketing dan Sabariah (bertudung, our tea lady.
Setibanya di pejabat, saya melihat Harun telah meninggalkan nota kecil (yellow sticker) di atas meja saya. Salinan surat dari HDC perlu difaxkan dengan segera ke HQ Kuala Lumpur di Jabatan Rumah Mesra Rakyat. Harun dan Zulhatta tiada di Kuching kerana menghadiri bengkel ISO selama 3 hari di HQ. Makanya semua tugasan bahagian teknikal hari ini dipikul oleh saya.
Seperti biasa, sebelum mula kerja kena berdoa dan warm-up dulu. Begitulah lazimnya yang berlaku di pejabat, jarang yang terus memulakan kerja sebaik tiba di meja masing-masing. Paling kurang, check email atau baca Harian Metro online. Kalau tak, minum kopi atau teh seteguk dua di pantry belakang sambil bersembang. Lainlah kalau big boss datang awal dan minta disediakan dokumen atau barang-barang penting. Pejabat boleh jadi huru-hara dan kacau bilau olehnya.
Kelaziman yang saya buat sebelum memulakan kerja ialah menyenaraikan semua 'task' yang bakal dibuat pada hari tersebut. Setelah kesemua tugasan telah di'list down', barulah saya memulakan kerja. Setiap kerja yang telah siap, akan ditandakan 'DONE' bagi menandakan bahawa 'task' tersebut telah sempurna disiapkan. Kaedah ini saya pelajari dari Head of Project Implementation kami, Tuan Wenndy Sebli. Kaedah ini penting bagi memastikan tidak ada tugasan yang tercicir keluar dan siap on time. Setiap senarai tugasan juga disenaraikan mengikut keutamaan. Perkara yang penting didahulukan, mana yang boleh ditangguh mungkin boleh dibuat pada keesokan harinya.
Saya fax salinan surat tersebut setelah meneliti isi kandungan surat yang dilampirkan oleh Harun kepada saya. Kemudian, saya call HQ untuk memaklumkan tentang fax tersebut. Setelah itu, saya call pula bahagian Finance di KL bagi follow-up retention money untuk kontraktor RMR yang telah lama tertunda. Malangnya, banyak payment yang belum diproses sedangkan memo mengenai payment tersebut telah dihantar lebih 3 bulan yang lepas. Mungkin ada kesilapan teknikal sikit agaknya.
Apa yang saya suka pada bahagian section kami di SPNB ini ialah, walau sesibuk manapun, atau 'stress' macam mana sekalipun, kami tetap bergurau bagi meredakan ketegangan kerja. Usik-mengusik, bergurau senda dah jadi macam 'tradisi' di section kami. Kadang-kadang, satu section ketawa terbahak-bahak sampai tak ingat dunia. Pernah sekali Tuan Wenndy buat satu cerita lawak, kami ketawa terbahak-bahak dengan suara nyaring, sedangkan big boss ada di biliknya. Syukurlah bos tak marah. Dia pun faham kami suka bergurau time kerja. Boss pun tak kisah kalau kami bergurau, asal apa yang dipinta dan tugasan siap dengan sempurna.
Suasana seperti ini menjadikan kami saling memahami antara satu sama lain. Ketgangan dan stress tempat kerja juga dapat dikurangkan. Masing-masing dengan watak dan karakter masing-masing. Tuan Wenndy dan Airwan, ada saja cerita lawak mereka. Sampaikan tengah serius discussion sempat juga buat lawak. Kami jadi tukang ketawa. Azry, Saiful, Tinie, Ziza dan Nisa, pun kadang-kadang join sekali dalam 'permainan' kami. Begitu juga Harun, saya, Faizul dan Zulhatta, semuanya kepala 'teknikal'. Bila kepala 'teknikal', ada-ada saja idea lawak @ 'gila-gila' menjadi 'permainan' kami.
Bila masuk waktu solat, kami berhenti kerja dan bersiap untuk solat jemaah. Dua minggu lepas, Tuan Wenddy telah membeli sebuah kitab untuk dibacakan setiap kali habis waktu solat. Ini satu aktiviti yang bermanfaat kerana ada juga ruang untuk menambah ilmu agama selain dari meraih pahala solat berjemaah.
Saya mempunyai pengalaman kerja hampir 10 tahun dalam bidang kejuruteraan. Sekitar 5 buah syarikat kejuruteraan pernah menjadi tempat saya mencari rezeki. Pelbagai ragam dan karakter orang yang saya perhatikan. Di SPNB, saya berpeluang untuk mempelajari karakter-karakter baru ini untuk pengetahuan dan panduan hidup saya. Syukur saya kepada Allah kerana menemukan kawan-kawan yang baik seperti di SPNB. Ini yang saya maksudkan dengan kitabkehidupan, belajar bukan dari kitab dengan tulisan yang ditulis atas kertas semata-mata, tetapi pada ragam dan warna hidup manusia yang ada di sekeliling kita. Kitabkehidupan yang 'hidup' di depan mata kita, yang kita baca dengan mata hati dan iman yang sejati.
Wallahu 'alam...
Dari kiri : Staf Project Implementation; Tuan Wenndy, Airwan (berkopiah putih), Zulhatta, Harun (berdiri),Faizul dan saya. Di hujung sekali berdiri Shimani (berbaju merah) dari Section Marketing dan Sabariah (bertudung, our tea lady.
Sabtu, 19 Jun 2010
Jelajah Bintulu, Mukah dan Saratok...
Outstation kali ini akan singgah ke tiga tempat. Bermula dari Bintulu, Igan dan Saratok. Seperti biasa, saya dan Faizul telah di'appoint' kali ini dengan mengenderai Hilux syarikat. Kami mula bertolak dari bumi Kuching pada jam 8:00 pagi Selasa. Sebelum berjalan jauh, kami singgah breakfast mi kolok yang pernah diperkenalkan oleh boss kami, Tuan Wenndy di sebuah kedai makan tidak jauh dari Puspakom Kuching. Tuan Wenndy yang perkenalkan mi kolok tersebut tidak lama dahulu. Ternyata, mi kolok kedai tersebut memang sedap dan menyelerakan. Saya dan Faizul sarapan pagi sambil pekena tongkat ali panas. Maklumlah, nak jalan jauh. Kena segarkan badan dengan minuman bertenaga tersebut.
Kami bergerak kira-keira setengah jam kemudian. Destinasi pertama kami ialah Bintulu. Dari Bintulu, setelah site inspection untuk Defect Liabilty Period selesai dilaksanakan, barulah kami turun menuju ke Mukah dan Saratok.
Setibanya di Bintulu, iaitu kira-kira jam 5:40 petang, kami cuba untuk check-in di Hotel Parkcity. Malangnya, kesemua bilik telak ditempah. Kami pergi pula ke New World Suite, pun penuh juga. Kalau kosong pun jenis mahal. Last-last, kami check-in di Hotel Kemena, tidak jauh dari kampung Asy-Syakirin.
Hotel ini masih baru dibuka. Kalau tak silap baru beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya saya pernah check-in di hotel yang sama atas urusan keluarga. Nyaman, selesa dan berpatutan.

Suasana pagi di Asysyakirin Commercial Center dari tingkap hotel Kemena, Bintulu.
Setelah check-in, saya dan Faizul makan malam awal. Lapar kerana tak makan semenjak tengahari. Selesai makan, kami balik ke bilik untuk berehat dan membersihkan diri. Faizul bercadang untuk stary di bilik, manakala saya pula hendak berziarah ke rumah keluarga sahabat baik saya yang terletak tidak jauh dari hotel.
Usai solat Maghrib-Isyak jamak qasar, saya berkemas dan memandu Hilux ke rumah sahabat baik saya. Kebetulan, setelah sampai di depan rumah, kelihatan sahabat baik saya baru sahaja pulang dari kerja. Kasihan, baru balik kerja rupanya. Walaupun kelelahan, sahabat saya masih menyambut saya dengan senyuman. Namun saya dapat membaca dari air mukanya yang nampak keletihan, lantas saya bercadang untuk bertandang lama di rumah tersebut.
Saya berbual dengan orang tua sahabat baik saya. Orang tua sahabat saya ini sangat peramah, terutama sekali ibunya. Soft spoken dan open minded. Banyak juga perkara yang dibualkan pada malam tersebut. Selain itu, saya juga bersembang dengan Yazid, adik sahabat saya dan bertukar fikiran mengenai hal usrah dan halaqah.
Saya berpamitan selepas itu. Sahabat saya dah masuk tidur, keletihan agaknya. Saya melarang ibunya dari membangunkan sahabat saya itu. Elok jika dia rehat.
Saya meredah bandar Bintulu yang hujan pada malam itu, dengan hati yang tenang.
Mukah...
Keesokkannya, saya dan Faizul bertolak ke Mukah. Sebelum itu, kami sarapan di Famous Mama Restaurant, sarapan murtabak daging dan tongkat ali. Restoran tersebut memang terkenal di Bintulu dan merupakan salah satu dari tempat persinggahan wajib bagi saya untuk menjamu selera jika datang ke Bintulu. Setelah sarapan, saya ke pejabat sahabat baik saya untuk bertemu dengannya.
Kami ke Mukah setelah mengucapkan selamat tinggal kepada sahabat baik saya dengan ibu angkat kesayangannya selepas itu.
Setibanya kami ke simpang Selangau, saya dan Faizul telah bersiap-sedia dengan jalan ke Mukah yang rosak teruk akibat pembinaan jalan. Cuaca hujan pada malam sebelumnya memburukkan lagi keadaan jalan. Dengan lafaz Bismillah, kami memandu Hilux pacuan 4 roda tersebut dengan berhati-hati. CD zikir lantunan Ustaz Zakaria dipasang bagi menenangkan perasaan kami yang cuak dan bimbang melihat keadaan jalan Mukah yang berbahaya. Pot holes di mana-mana, lori balak, lori besar, jurang dan lain-lain toksah cerita. Debu berterbangan sehingga menyukarkan pemandangan. Jika silap langkah, kemalangan boleh berlaku. Namun setelah sejam lebih 'bertarung', alhamdulillah kami sampai ke bandar Mukah dengan selamat.


'Mimpi ngeri' bagi sesiapa yang nak ke Mukah. Bila lah agaknya jalan ni nak siap?
Tiba di bandar Mukah, walaupun kecil, namun aman dan damai. Saya suka kan bandar ini. Saya tidak melepaskan peluang untuk makan umai Mukah yang terkenal dengan ikan segarnya. Sebelah malamnya pula, saya bercadang nak makan ikan pari panggang. Malangnya, gerai tersebut tutp, tengok bola agaknya. Saya tiada pilihan meliankan menjadikan ayam penyet menjadi santapan saya pada malam itu.





Gambar-gambar di atas adalah di antara pemandangan yang ada di Mukah. Banyak gambar lain yang sempat saya ambil untuk permandangan di sekitar bandar Mukah. Tapi oleh kerana saya malas nak upload, saya sertakan sebahagian dari gambar-gambar tersebut.
Sebenarnya banyak yang hendak diceritakan tentang Mukah ini. Namun saya memilih untuk menceritakannya dalam entry yang akan datang, insya Allah.
Wallahu 'alam...
Kami bergerak kira-keira setengah jam kemudian. Destinasi pertama kami ialah Bintulu. Dari Bintulu, setelah site inspection untuk Defect Liabilty Period selesai dilaksanakan, barulah kami turun menuju ke Mukah dan Saratok.
Setibanya di Bintulu, iaitu kira-kira jam 5:40 petang, kami cuba untuk check-in di Hotel Parkcity. Malangnya, kesemua bilik telak ditempah. Kami pergi pula ke New World Suite, pun penuh juga. Kalau kosong pun jenis mahal. Last-last, kami check-in di Hotel Kemena, tidak jauh dari kampung Asy-Syakirin.
Hotel ini masih baru dibuka. Kalau tak silap baru beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya saya pernah check-in di hotel yang sama atas urusan keluarga. Nyaman, selesa dan berpatutan.
Suasana pagi di Asysyakirin Commercial Center dari tingkap hotel Kemena, Bintulu.
Setelah check-in, saya dan Faizul makan malam awal. Lapar kerana tak makan semenjak tengahari. Selesai makan, kami balik ke bilik untuk berehat dan membersihkan diri. Faizul bercadang untuk stary di bilik, manakala saya pula hendak berziarah ke rumah keluarga sahabat baik saya yang terletak tidak jauh dari hotel.
Usai solat Maghrib-Isyak jamak qasar, saya berkemas dan memandu Hilux ke rumah sahabat baik saya. Kebetulan, setelah sampai di depan rumah, kelihatan sahabat baik saya baru sahaja pulang dari kerja. Kasihan, baru balik kerja rupanya. Walaupun kelelahan, sahabat saya masih menyambut saya dengan senyuman. Namun saya dapat membaca dari air mukanya yang nampak keletihan, lantas saya bercadang untuk bertandang lama di rumah tersebut.
Saya berbual dengan orang tua sahabat baik saya. Orang tua sahabat saya ini sangat peramah, terutama sekali ibunya. Soft spoken dan open minded. Banyak juga perkara yang dibualkan pada malam tersebut. Selain itu, saya juga bersembang dengan Yazid, adik sahabat saya dan bertukar fikiran mengenai hal usrah dan halaqah.
Saya berpamitan selepas itu. Sahabat saya dah masuk tidur, keletihan agaknya. Saya melarang ibunya dari membangunkan sahabat saya itu. Elok jika dia rehat.
Saya meredah bandar Bintulu yang hujan pada malam itu, dengan hati yang tenang.
Mukah...
Keesokkannya, saya dan Faizul bertolak ke Mukah. Sebelum itu, kami sarapan di Famous Mama Restaurant, sarapan murtabak daging dan tongkat ali. Restoran tersebut memang terkenal di Bintulu dan merupakan salah satu dari tempat persinggahan wajib bagi saya untuk menjamu selera jika datang ke Bintulu. Setelah sarapan, saya ke pejabat sahabat baik saya untuk bertemu dengannya.
Kami ke Mukah setelah mengucapkan selamat tinggal kepada sahabat baik saya dengan ibu angkat kesayangannya selepas itu.
Setibanya kami ke simpang Selangau, saya dan Faizul telah bersiap-sedia dengan jalan ke Mukah yang rosak teruk akibat pembinaan jalan. Cuaca hujan pada malam sebelumnya memburukkan lagi keadaan jalan. Dengan lafaz Bismillah, kami memandu Hilux pacuan 4 roda tersebut dengan berhati-hati. CD zikir lantunan Ustaz Zakaria dipasang bagi menenangkan perasaan kami yang cuak dan bimbang melihat keadaan jalan Mukah yang berbahaya. Pot holes di mana-mana, lori balak, lori besar, jurang dan lain-lain toksah cerita. Debu berterbangan sehingga menyukarkan pemandangan. Jika silap langkah, kemalangan boleh berlaku. Namun setelah sejam lebih 'bertarung', alhamdulillah kami sampai ke bandar Mukah dengan selamat.
'Mimpi ngeri' bagi sesiapa yang nak ke Mukah. Bila lah agaknya jalan ni nak siap?
Tiba di bandar Mukah, walaupun kecil, namun aman dan damai. Saya suka kan bandar ini. Saya tidak melepaskan peluang untuk makan umai Mukah yang terkenal dengan ikan segarnya. Sebelah malamnya pula, saya bercadang nak makan ikan pari panggang. Malangnya, gerai tersebut tutp, tengok bola agaknya. Saya tiada pilihan meliankan menjadikan ayam penyet menjadi santapan saya pada malam itu.
Gambar-gambar di atas adalah di antara pemandangan yang ada di Mukah. Banyak gambar lain yang sempat saya ambil untuk permandangan di sekitar bandar Mukah. Tapi oleh kerana saya malas nak upload, saya sertakan sebahagian dari gambar-gambar tersebut.
Sebenarnya banyak yang hendak diceritakan tentang Mukah ini. Namun saya memilih untuk menceritakannya dalam entry yang akan datang, insya Allah.
Wallahu 'alam...
Langgan:
Catatan (Atom)
